Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pepeling Semar Tentang Hirup jeung Kahirupan Sapopoé

Pepeling Semar Tentang Hirup jeung Kahirupan Sapopoé


Pepeling adalah sebuah bentuk ungkapan yang berisi nasihat, petuah, atau ajaran yang berasal dari budaya Sunda. Pepeling biasanya disampaikan oleh orang tua, tokoh adat, atau tokoh agama kepada generasi muda atau masyarakat umum. Pepeling bertujuan untuk memberikan bimbingan, motivasi, atau inspirasi dalam menjalani hidup dan kehidupan sehari-hari.

Salah satu tokoh yang terkenal dengan pepelingnya adalah Semar Badranaya, yang dalam cerita wayang golek merupakan salah seorang tokoh Mahabrata yang mengabdi pada para Pandawa. Semar Badranaya juga dikenal sebagai Lurah Semar Kudapawana, yang memiliki tiga putra, yaitu Astrajingga (cépot), Dawala, dan Gareng.

Dalam pagelaran wayang golek, Semar Badranaya sering menyampaikan pepelingnya kepada putra-putranya atau kepada para Pandawa. Pepeling Semar Badranaya mengandung banyak hikmah dan makna yang mendalam tentang hidup dan kehidupan sapopoé (sehari-hari).

Berikut adalah beberapa contoh pepeling Semar Badranaya tentang hidup dan kehidupan sapopoé, beserta terjemahannya dalam bahasa Indonesia:

"Kieu deuleu ucu! Saperkara déwék téh sono. Kaduana ti éta memang ieu teh aya hal-hal anu baris ditepikeun wé, anu baris dipadungdengkeun ngeunaan hirup jeung kahirupan urang sapopoé."

Artinya: "Begini nak! Pertama, saya ini kangen. Keduanya ada hal-hal yang akan disampaikan, yang akan diperbincangkan tentang hidup dan kehidupan sehari-hari."

Pepeling ini menunjukkan bahwa Semar Badranaya merasa sayang dan peduli kepada putra-putranya atau kepada para Pandawa. Ia ingin berbagi pengalaman dan pengetahuannya tentang hidup dan kehidupan sehari-hari, agar mereka bisa belajar dan mengambil pelajaran darinya.

"Naon sabab? Heu da urang téh lain asli penduduk Tumaritis, sanajan ngaku jelema penduduk di dieu, lembur di dieu padahal aslina mah urang téh ti ahérat. Boh ngaku urang Cikonéng Bojongsoang, tetep wé bakal mulang ka asalna."

Artinya: "Apa sebabnya? Karena kita bukan penduduk Tumaritis, meskipun mengaku penduduk di sini, kampung di sini, padahal aslinya kita dari akhirat. Baik mengaku orang Cikoneng Bojongsoang, tetap saja akan kembali ke asalnya."

Pepeling ini mengingatkan bahwa kita semua adalah makhluk ciptaan Tuhan yang berasal dari alam akhirat. Kita hanya sementara berada di dunia ini sebagai tempat ujian dan amal. Kita tidak boleh lupa akan asal-usul kita dan tujuan kita. Kita harus selalu bersiap-siap untuk kembali ke alam akhirat.

"Cirina naon? Ieu wujud ditungtut ku waktu, awak diala ku mangsa, diri diciwitan wanci. Dina harti urang saréréa kumelendang di alam dunya téh hiji waktu mah bakal pinanggih jeung poé ahir, anu ngandung harti poé pamungkas, raga ditinggalkeun nyawa. Heueuh maot pingaraneunana."

Artinya: "Cirinya apa? Wujud ini terus dikurangi oleh waktu. Dalam artian kita semua yang hidup di dunia ini suatu saat akan bertemu dengan hari akhir, raga ditinggalkan nyawa. Iya mati namanya."

Pepeling ini menyadarkan bahwa kita semua akan menghadapi kematian sebagai akhir dari hidup kita di dunia. Kematian adalah sesuatu yang pasti dan tidak bisa dihindari. Kita harus menyadari bahwa hidup kita di dunia ini adalah terbatas dan berharga. Kita harus memanfaatkan waktu kita sebaik-baiknya untuk berbuat kebaikan dan bermanfaat.

"Nah, kembali ke inti. Bahwa kita selaku manusia yang hidup di dunia, sebetulnya nak! memiliki tugas dari yang memiliki kita, dari Yang Maha Kuasa. Teu aya kajaba, lamun nyokot kana katerangan yén Pangéran moal pati-pati ngayakeun jin jeung manusa lian ti pikeun ngabdi ka anjeun-Na, pikeun ibadah ka anjeun-Na."

Artinya: "Nah, kembali ke inti. Bahwa kita selaku manusia yang hidup di dunia, sebetulnya nak! memiliki tugas dari yang memiliki kita, dari Yang Maha Kuasa. Tidak terkecuali, jika mengambil dari keterangan bahwa tidak semata-mata Tuhan menciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Nya, untuk beribadah kepada-Nya."

Pepeling ini menjelaskan bahwa kita semua memiliki tujuan hidup yang sama, yaitu untuk mengabdi dan beribadah kepada Tuhan yang menciptakan kita. Tuhan adalah satu-satunya yang berhak untuk disembah dan ditundukkan. Kita harus menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Kita harus bersyukur dan bertawakkal kepada-Nya.

"Ari nu disebut ibadah téh migawé pagawéan, anu éta pagawéan téh luyu jeung skénariona, jeung éta pagawéan téh bakal ngahasilkeun salametna dunya jeung ahérat."

Artinya: "Yang disebut ibdah itu mengerjakan perbuatan sesuai dengan skenarionya, dan perbuatan itu akan menghasilkan selamatnya dunia dan akhirat."

Pepeling ini mengajarkan bahwa ibadah adalah segala perbuatan yang sesuai dengan syariat Islam, yang telah ditetapkan oleh Tuhan melalui wahyu-Nya. Ibadah bukan hanya sebatas ritual shalat, puasa, zakat, atau haji, tetapi juga meliputi segala aspek kehidupan, seperti bekerja, belajar, berkeluarga, bersosial, dan lain-lain. Ibadah yang dilakukan dengan ikhlas dan benar akan mendapatkan pahala dan keberkahan dari Tuhan di dunia dan akhirat.

Demikian artikel tentang Pepeling Semar Tentang Hirup jeung Kahirupan Sapopoé yang saya buat. Semoga bermanfaat dan dapat menjadi inspirasi bagi Anda.